Melihat Krisis Air Bersih di Batam (1)

Krisis air di Batam masih membutuhkan waktu lama untuk bisa diselesaikan. Rencana awal Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk mengatasi krisis yang berlangsung sejak Februari 2020 ini adalah melaksanakan interkoneksi Dam Tembesi menuju Dam Mukakuning. Kemudian melaksanakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) berupa hujan buatan.

Perlu diketahui, saat ini lima dam di Batam memiliki kapasitas total sebanyak 3.800 liter per detik. Sedangkan ATB mengelola sebanyak 3.300 liter per detik untuk memenuhi kebutuhan domestik dan industri. Dengan kata lain, cadangan air di Batam hanya 500 liter per detik.

Dam Duriangkang mengalami kekeringan. Foto diambil pada 10 April 2020. Iman Wachyudi (Batam Pos)

Sementara pertumbuhan kebutuhan air bersih meningkat antara 150 hingga 200 liter per detik setiap tahunnya. Untuk tahun ini saja, kebutuhan air bersih diprediksi mencapai 4.500 liter per detik.

Di tengah pandemi saat ini, pemerintah banyak menganjurkan masyarakat untuk tetap di rumah dan rajin mencuci tangan. Kebutuhan air bersih diperkirakan akan semakin meningkat.

Lantas bagaimana kesiapan BP Batam dalam menyediakan air bersih di masa depan.

Seperti yang kita ketahui, krisis air bersih pernah menjadi tren di tengah-tengah masyarakat Batam sebelum pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. ATB yang tugasnya hanya mendistribusikan air selalu meminta masyarakat berhemat air karena penggiliran air (rationing) akan diberlakukan.

Sudah dua kali, ATB mengeluarkan pengumuman rationing akan diberlakukan dan dua kali juga BP Batam menganulirnya untuk menenangkan gejolak yang terjadi di tengah masyarakat. Banyak masyarakat yang berduyun-duyun memborong drum air agar bisa menampung air saat kran dihidupkan

BP Batam meminta ATB untuk lebih kreatif dalam manajemen air. Sedangkan Di satu sisi, akibat musim kemarau kemarin, dam-dam mengalami penyusutan parah, termasuk dam utama di Batam, yakni Dam Duriangkang yang sudah berada di ambang batas. Berdasarkan data terakhir Maret lalu, level dam yang mensuplai 70 persen kebutuhan air masyarakat Batam itu telah kandas di angka minus 3,14 meter dari permukaan laut. Jika nilainya mencapai minus 4 meter, maka dam akan berhenti beroperasi.

Meski situasi kritis, BP Batam tampaknya masih mampu menemukan agar rationing tidak diberlakukan. Caranya adalah dengan meminta ATB memperdalam intake Tanjungpiayu agar mampu menampung dan mengalirkan air dari Dam Duriangkang lebih banyak lagi.

Cara tersebut untuk sementara ini dianggap relevan, tapi juga punya batas waktu. Diperkirakan suplai hanya akan bertahan dalam waktu dekat.

Bersempena menunggu suplai air menipis, BP Batam memang mempersiapkan dua cara yakni interkoneksi antar dam dan TMC berupa hujan buatan. Rencana awal, TMC dilaksanakan akhir April dan interkoneksi bisa dilakukan Juni.

Tapi, rencana tersebut karena berbagai hal. TMC molor hingga Juni karena berbagai hal, terutama terkendala izin penerbangan pesawat yang tidak bisa dikeluarkan karena pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Sedangkan, interkoneksi antar dam masih harus menempuh proses birokrasi berupa lelang, sehingga masih membutukan tiga bulan dari saat ini untuk bisa beroperasi.

Disadur dari Batam Pos, proses interkoneksi Dam Tembesi menuju Mukakuning ternyata memang masih membutuhkan waktu tiga bulan lagi untuk beroperasi. BP Batam menyebut bahwa saat ini merupakan tahapan pengadaan material yang diperlukan untuk interkoneksi tersebut.

“Tembesi ke Mukakuning jaraknya 3,9 kilometer. Nanti dari Tembesi, dipompa dari tempat yang agak dalam sekitar enam meter. Itu akan cukup untuk memompa 600 liter air per detik sehingga bisa membantu Dam Mukakunig,” kata Direktor Fasilitas Lingkungan dan Aset BP Batam, Binsar Tambunan, Selasa (26/5/2020) di Gedung BP Batam.

Binsar juga menyebut tahapan lelang sudah selesai, dimana yang mengikutinya sebanyak kurang lebih 40 peserta. “Yang masuk ada lima. Sekarang kalau tidak salah, sudah kontrak dan saat ini sedang pengadaan material selama sebulan,” tuturnya.

Adapun material tersebut akan digunakan untuk membangun instalasi pengolahan air (IPA), pompa dan pembangunan dua bangunan yakni intake dan bangunan penerima di Dam Mukakuning.

“Dalam tiga bulan akan selesai. Saat ini satu bulan untuk kedatangan material, sehingga mungkin sebulan lagi sudah bisa dipasang,” ungkapnya.

Binsar yakin jika interkoneksi terealisasi, maka akan membantu untuk mengatasi kekurangan pasokan air di Batam.”Dam Tembesi ini sendiri ini nanti WTP-nya ada di Mukakuning. Nanti intakenya memompakan kesana, supaya juga mudahkan reservoir yang ada di belakang Batamindo yang selama ini tidak dipakai oleh ATB,” tuturnya.

Sedangkan untuk teknologi modifikasi cuaca (TMC) berupa hujan buatan akan dilaksanakan pada bulan Juni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s