Dapat Pesanan dari Negara, Shipyard Bisa Bertahan di Tengah Pandemi

Sektor galangan kapal (shipyard) di Batam masih bisa bernafas lega selama masa pandemi Covid-19. Sebabnya karena sejumlah galangan kapal mendapat pesanan dari Pertamina dan SKK Migas.

“Pesanan itu datang dari dalam negeri. Karena sejumlah galangan kapal ikut tender dari pemerintah,” kata Sekretaris Batam Shipyard and Offshore Association (BSOA), Novi Hasni, Selasa (12/5/2020).

Sebagai contoh, galangan kapal yang membangun kapal untuk keperluan eksplorasi migas seperti SMOE dan Mc Dermott mendapat pesanan dari proyek kilang LNG Tangguh di Irian. Dari pesanan tersebut saja, SMOE diperkirakan mempekerjakan 3.000 karyawan.

Shipyard di Batam. F. Beritatrans

Sedangkan sejumlah galangan kapal seperti Batamec, Bandar Abadi dan lainnya mendapat pesanan kapal untuk kegiatan lepas pantai dari Pertamina.

“Proyek Pertamina itu memesan 47 kapal yang pembuatannya tersebar di Jakarta, Surabaya dan Batam. Karena Batam paling banyak shipyardnya, maka paling banyak dapat pesanan,” ungkapnya.

Adapun, kapal pesanan Pertamina yakni kapal anchor handling. Pertamina ingin meremajakan kapal-kapalnya sehingga membuat pesanan kapal baru. “Ada juga kapal yang dibutuhkan untuk pengeboran. Selain itu, tug boat juga,” jelasnya.

Proyek tersebut sudah dimulai dari tahun 2018 dan terus berjalan hingga saat ini. Selain Pertamina, Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) dari Kementerian Perhubungan juga memesan kapal ke shipyard di Batam.

Kabarnya ada 53 kapal yang dipesan, tapi sayangnya tahun ini proyek tersebut tertunda karena alasan tertentu. “Sebenarnya proyeknya dikejar untuk tahun ini untuk kegiatan mudik. Makanya kapal yang dikerjakan baru sedikit,” jelasnya.

Proyek-proyek ini membutuhkan jumlah karyawan yang besar, sehingga Novi menyebut tidak ada shipyard di Batam yang ikut-ikutan merumahkan karyawannya.

“Karyawan yang dirumahkan itu karena proyeknya habis. Sedangkan saat ini, masih ada proyek sehingga butuh tenaga kerja,” jelasnya lagi.

Hanya saja, karena berada di tengah Ramadan, jam kerja tiap harinya diakhiri dengan cepat. “Biasa masuk dari pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB. Tapi karena puasa, pulangnya jadi pukul 16.00 WIB,” ucapnya.

Novi sangat bersyukur di tengah pandemi Covid-19 yang memukul sektor dunia usaha, sektor shipyard masih bisa bertahan. Meskipun begitu, masih ada sejumlah kendala utama yang sedikit mengganggu kelancaran sektor ini. Dari 60 galangan kapal anggota BSOA, setengahnya masih bisa bertahan.

“Kendalanya terkait persoalan mobilitas, khususnya mobilitas kru kapal dan pemilik kapal. Dengan kondisi saat ini, maka masuk ke Indonesia bisa dikarantina hingga 14 hari,” ungkapnya.

Sedangkan untuk proses pemesanan material pembuatan kapal dari luar negeri, Novi menyebut masih lancar. Tapi khusus untuk kapal pesanan Pertamina, Novi mengatakan BUMN tersebut menghendaki materialnya berasal dari dalam negeri sesuai dengan kebijakan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

“Misalnya cat dari Jakarta dan plat baja dari Krakatau Steel. Selebihnya lancar karena shipyard di Batam mengantongi izin operasional dan mobilitas selama pandemi dari Kementerian Perindustrian,” tuturnya.

*Artikel ini telah tayang di Harian Pagi Batam Pos, Rabu, 13 Mei 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s