Suka Duka Tim Medis Tangani Pasien Covid-19

Tim medis Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam berhasil menyembuhkan seluruh pasien Covid-19 berjumlah 13 orang yang dirawat disana. Ada beragam kisah menarik yang menyertai perjuangan mereka. Misi mereka hanya satu yakni merawat pasien hingga sembuh agar bisa berkumpul kembali bersama keluarganya.

Di tengah wabah Covid-19 yang tengah melanda Batam, tim medis dari RSBP Batam masih bisa bergembira. Saat menyapa media massa di ruang rapat RSBP Batam, Jumat (15/5/2020), tujuh orang yang mewakili tim medis RSBP Batam tidak semuanya menggunakan pakaian kebesarannya.

Sebagian besar tim medis yang merupakan wanita menggunakan kebaya. Saking anggunnya seakan-akan mereka seperti tengah menjalani sesi foto. Sedangkan sang dokter spesialis paru-paru yang berada di tengah-tengah mereka menggunakan setelan formal.

Tim Medis RSBP Batam

Meski dibalut masker, raut wajah yang tersenyum sumringah masih bisa terlihat dengan jelas. Kegembiraan tersebut muncul setelah perjuangan hampir tiga bulan dalam menangani pasien pasien dalam pengawasan (PDP) hingga pasien positif Covid-19. Alhamdulillah, semua pasien positif sudah sembuh dan dipulangkan untuk bertemu kembali dengan keluarganya.

Kegembiraan saat ini justru terbalik 180 derajat saat RSBP Batam ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 di Kepulauan Riau sejak Januari 2020.

“Sebenarnya kami tak menyangka kalau RSBP jadi RS rujukan. Sebelumnya RSBP pernah ditunjuk jadi RS rujukan untuk penyakit SARS. Jadi sudah ada ruangan, tapi lama tidak terisi dan tidak layak lagi,” kata dokter spesialis paru-paru RSBP Batam, Tafsil saat mulai bercerita.

Meski begitu, ia mengatakan seburuk apapun situasinya, tim medis RSBP harus bersiap. “Pertama kali memang agak berdebar-debar, cemas dan was-was. Kita ditunjuk saat virus corona masih merebak di Wuhan, Tiongkok. Dan sekarang sudah jadi pandemi, maka kami harus bersiap. Bagi saya yang merupakan spesialis paru-paru juga harus menanamkan komitmen. Maka setelah itu dibentuklah timny sambil memperbaiki ruangan sehingga menjadi layak pakai untuk isolasi, lab dan radiologi juga disiapkan,” tuturnya.

Pasien pertama yang ditangani RSBP yakni pasien dari Taiwan pada akhir Januari lalu. “Januari, akhirnya kami kedatangan pasien asing yang ke Batam untuk jalan-jalan. Ia masuk ruang gawat darurat karena demam dan batuk-batuk, langsung diisolasi untuk dirawat,” kata pulmonologist ini.

Berbeda dengan saat ini, Januari lalu masih belum ada rapid test ataupun mesin polymerase chain reaction (PCR) di Batam. Dan untuk mengetahui apakah pasien asing tersebut terpapar virus corona atau tidak, maka harus menunggu hasilnya keluar dari laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLP) di Jakarta.

“Segala suatu koordinasinya melalui tim gugus Covid-19 yang diketuai Kepala BP Batam (Rudi,red). Dulu swab dikirim ke Jakarta, itulah kendala kami. Tapi syukurnya pasien pertama tersebut hasilnya negatif. Setelah kondisinya stabil, ia dipulangkan. Tapi tetap harus menjalani isolasi mandiri dan rutin melapor ke puskesmas,” ungkapnya.

Di RSBP, rumah sakit plat merah ini menyediakan 32 ruangan untuk penanganan pasien. 13 ruangan untuk pasien positif dan 19 ruangan untuk PDP.

Menyembuhkan pasien bukan hanya bagaimana memberikan obat-obatan yang tepat. Penyembuhan secara psikologis juga menjadi faktor utama mengapa tim medis RSBP Batam bisa menyembuhkan semua pasien positif Covid-19.

“Banyak pasien di RSBP merupakan orang tanpa gejala (OTG). Kondisinya stabil, tapi pas di tes swab hasilnya positif. Mereka sering bertanya mengapa saya bisa positif. Makanya kami sebagai tim medis berusaha untuk membujuk pasien agar bisa dirawat. Kita upayakan kedekatan lebih pada psikisnya,” katanya.

“Kami berikan terapi. Kami tampung semua keluhan, ajak berdialog. Dan meminta mereka istirahat yang cukup dan juga berolahraga sendiri di kamar,” paparnya.

Selama ini, keluhan dari pasien tidak bersumber dari penyakitnya, justru dari suasana hatinya. “Pasti mereka bosan dua minggu dikarantina, makanya kami jelaskan pemulangan itu paling lama dua minggu karena menunggu hasil tes swab keluar. Kriteria pemulangan itu harus dua kali tes swab dan dua-duanya negatif,” jelasnya.

Selain itu, keluhan juga datang karena pasien Covid-19 mengkonsumsi obat Klorokuin. Saat ini, Klorokuin memang tengah diteliti untuk menangani infeksi Covid-19, karena obat anti malaria ini berfungsi untuk menghambat pertumbuhan parasit di dalam sel darah merah.”Efek sampingnya memang membuat jantung berdebar-debar,” imbuh Tafsil.

Sebagai tim medis, tanggung jawab sangat besar untuk mengurangi dampak psikologis pada pasien. Banyak pasien yang takut saat menjelang hasil tes swabnya keluar. Jadi merupakan tugas utama tim medis untuk memberikan pemahaman yang baik.

“Jadi tanggung jawab kita di lapangan berikan yang terbaik. Di awal-awal, banyak pasien yang stres lihat berita diluar. Kami juga stres. Tapi begitu sudah menghadapi pasien pertama, dan sekarang kami sudah tidak khawatir lagi,” ucapnya.

Pasien Boleh Pesan Junkfood hingga Nonton Film Korea

Koordinator perawat RSBP Batam, Norma Elina juga turut menceritakan kisahnya. Sebagai perawat, tentunya ia lebih sering berinteraksi dengan pasien positif Covid-19 tiap jam bahkan terkadang tiap beberapa menit sekali.

“Awalnya wow gitu, agak takut. Aduh gimana ini. Tapi setelah itu, kami dapat pembekalan mengenai bagaimana cara penularannya. Akhirnya kami jadi semangat karena cara menghindari virus yang terbaik yakni sering cuci tangan dan pakai alat pelindung diri (APD) yang benar,” jelasnya.

Selama merawat pasien, keluhan berupa ungkapan rasa bosan selalu ia dengar. Belum lagi ungkapan rasa rindu kepada keluarga dan kekhawatiran lainnya menyangkut penyakit yang tengah diderita.

“Untuk menenangkan pasien, kami buat mereka juga bergembira biar tak bosan. Kami ajak mereka cerita mengenai keluarga dan anak-anaknya,” jelasnya lagi.

Tapi tak lama usai bercerita, pasien pasti merasa bosan lagi.”Mereka terkadang mikirnya saya kan tak ada gejala, mengapa tidak isolasi di rumah saja. Jadi kami jelaskan bahwa kalau sudah positif tak bisa isolasi mandiri untuk pencegahannya, harus diawasi dokter dan tim medis,” paparnya.

Pasien-pasien tersebut selalu diawasi CCTV selama 24 jam untuk dipantau keberadaannya. Telepon juga disiapkan agar tim medis bisa dihubungi kapan saja jika dibutuhkan.

Nora juga menceritakan sejumlah pengalaman lucu saat merawat pasien. Karena memakai APD yang lengkap, termasuk google, pandangannya pun tidak begitu jelas karena google sering berembun.

“Jadi pernah ada barang yang kami bawakan tertukar antara pasien pria dan wanita, namanya agak mirip. Karena google kami berembun, jadi tak terlihat dengan jelas. Terus pasien wanita mengeluh ‘ini baju siapa’. Tiba-tiba si pasien pria senyum-senyum sendiri. Rupanya ia sudah lihat pakaian pasien wanita. Hal-hal seperti itu jadi kelucuan yang buat bahagia,” tegasnya.

Ada juga pasien yang biasa tinggal di luar negeri, ketika urusan makan, ternyata tak terbiasa dengan menu lokal. “Jadi ia bilang ‘suster, saya biasa di luar negeri. Tak biasa dengan masakan lokal. Biasa makan Kfc, Pizza, Spaghetti dan lain-lain, tolong dong belikan’. Kami belikan juga untuk menjaga mood pasien tetap bagus, padahal badannya sudah gemuk banget,” katanya.

Apakah memakan junkfood akan berpengaruh pada tingkat imunitas tubuh. Nora mengatakan sesuai dengan anjuran dokter, boleh makan junkfood. “Kita tidak batasi kalau mau makan, atau makannya apa. Hal yang terpenting itu asupan nutrisi,” jelasnya.

Dan ada juga pengalaman saat dimana pasien kehabisan kuota, padahal diperlukan untuk melakukan panggilan video kepada keluarganya. “Nah, ada yang nanya pasword wifi, mau video call sama keluarganya. Rupanya setelah itu ia nonton film Korea sampai jam 2 malam. Pasien lain tak dikasih tahu paswordnya, jadi bingung dan mengira kami diskriminasi,” ungkanya sembari tertawa.

Sekilas mengenai menu makanan, tetap menganut pola empat sehat lima sempurna. Tapi ada satu menu yang harus tetap selalu ada tiap harinya, yakni telur rebus. “Di nasi pasti ada telur selama tiga kali makan sehari. Kalau lauk lainnya ganti-gantian, ada lauk ikan atau daging ditambah sayur, nanti beberapa jam kemudian ditambah puding, kecuali telur rebus itu wajib,” paparnya.

Telur merupakan makanan yang direkomendasikan RSBP Batam karena kaya akan protein dan nutrisi yang dibutuhkan. “Baiknya semua bisa makan telur dan tidak ada yang alergi,” ucapnya lagi.

Tim medis RSBP juga membuat grup Whatsapp bernama “Keluarga Cemara”. Penghuni grup yakni tim medis bersama dengan pasiennya. “Kadang-kadang mereka itu ingin kenal kami. Karena biasanya kami selalu pakai APD lengkap, mereka tak tahu wajah kami. Makanya nanti kalau kami sudah di rumah, mereka pasti video call untuk tahu wajah asli kami. Setelah pandemi ini usai, kami berjanji akan hang out di mall,” paparnya.

Komitmen, loyalitas dan kebersamaan merupakan tiga hal yang menjadi pedoman tim medis RSBP selama menangani pasien. Dengan itu, maka dalam menjalankan tugas tidak terasa berat dan bisa dilakukan dengan ikhlas.

Ikhlas memang dibutuhkan karena APD yang mereka gunakan bukanlah sesuatu yang membuat penggunanya nyaman. “Rasanya sesak nafas, panas berkeringat, kacamata sering berembun. Google dan masker itu ketat, makanya kami kasih plester biar tidak ada bekas. Apalagi sarung tangannya juga dua lapis. Kami pakainya berjam-jam dan itu benar-benar tidak nyaman,” jelasnya.

Ia sangat bersyukur karena pihak RSBP selalu tanggap dan cepat dalam menyediakan kebutuhan tim medis. Bahkan Dinas Kesehatan Batam juga memberikan bala bantuan berupa 10 perawat. Jadi total jumlah perawat menjadi 26 orang.

“Jika empat kali masuk ke ruang isolasi, maka empat kali juga kami setelah itu harus mandir air hangat. Karena sering mandi, kulit kami jadi bersih dan kinclong. Dari manajemen sangat perhatian, bahkan memberikan kami hairdryer,” ujarnya lagi.

Bahkan ada salah seorang perawat yang merupakan pengantin baru sekitar Januari lalu. Tapi berhubung sudah ditugaskan, makanya suaminya harus rela melepaskannya untuk berjuang di garda depan.

“Kami perawat itu tak pulang dari akhir Februari lalu. Kami tinggal di mes. Ini si Mona pengantin baru juga begitu, untung suaminya pengertian,” imbuhnya.

Sedangkan analis laboratorium, Eni Srinurwanti mengatakan dalam sehari, ia sering diminta mengambil swab dari 40 orang .

“Saya hanya sekali dilatih, terus terjun ke lapangan. Pas diawal-awal, banyak pasien yang takut diambil swab-nya. Jadi saya belajar tekniknya agar mereka tidak takut dan sakit. Tehniknya harus enak dan buat santai,” paparnya.

Ia mengaku sudah mengambil swab dari pejabat sampai dengan jenazah, bahkan mengambil swab dari pasien yang bukan dirawat di RSBP.

“Swab itu diambil dari tenggorokan dan hidung. Kalau dari tenggorokan, buka lebar-lebar mulutnya dan lidah dikeluarkan. Kalau dari hidung harus pakai rasa karena alatnya harus menyentuh agak dalam. Kalau kurang hati-hati bisa sakit nanti. Selain itu, agar terhindar dari percikan droplet, kami mengambilnya dari samping tubuh pasien,” paparnya lagi.

*Artikel ini telah tayang di Harian Pagi Batam Pos, Senin, 18 Mei 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s