Level Muka Air Waduk Duriangkang Naik 37 Cm

Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah mengudara di atas langit Batam selama 13 hari melaksanakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) berupa hujan buatan. Selama tempo waktu tersebut, level elevasi Waduk Duriangkang sudah naik sebanyak 37 sentimeter. Hujan buatan masih terus akan berlangsung hingga 11 Juli mendatang.

“Secara total di Duriangkang naik 37 sentimeter, dimana evaluasi di hari terakhir naik 2,4 sentimeter,” kata Koordinator TIM TMC BPPT, Budi Harsoyo di posko BPPT, Bandara Hang Nadim, Batam, Rabu (24/6/2020).

Dalam prosesnya, tim ini selalu bersiap menunggu datangnya awan potensial yang dapat disemai. Setelah menemukannya, maka BPPT pun terbang mengudara selama satu jam menaburkan flare untuk menyemai awan. Setelah satu hingga empat jam, maka hujan pun akan turun. Tim BPPT fokus menyemai awan yang berada di atas Waduk Duriangkang.

Pesawat tim BPPT tengah mengudara

“Dalam sehari itu, bisa terbang sebanyak dua kali sejak pagi dan selesai pukul 17.00 WIB. Khusus untuk Batam, kami hanya bisa terbang dibawah dasar awan dengan ketinggian 1.500 hingga 2.000 kaki,” ungkapnya.

Dengan ketinggian seperti itu, maka flare yang didatangkan dari Amerika merupakan metode yang cocok untuk digunakan. Sedangkan dengan metode umum yakni menyemai awan dengan garam, maka tim BPPT harus terbang diatas ketinggian 3.000 kaki.

“Untuk Batam diatas 3.000 kaki masih jadi otoritas Singapura. Jadi harus izin dulu kesana, ” imbuhnya.

Kelak jika hujan buatan berakhir, maka Budi menyebut airnya bisa bertahan hingga masuk musim hujan tahun depan.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) BMKG Batam, Addi Setiadi mengatakan pelaksanaan TMC juga mempertimbangkan kondisi cuaca di Batam yang memang masuk dalam musim penghujan.

“Jadi, hujan ini merupakan fenomena regional virulen belokan angin dan konvergensi serta ditambah temperatur yang hangat. Itu yang efektif membuat hujan, bukan karena penyemaian TMC,” ungkapnya.

Hujan diperkirakan akan masih berlanjut hingga akhir Juni mendatang. “Jadi tiap terbentuknya awan hujan masih memungkinkan terjadinya hujan lokal,” tutupnya.

*Artikel ini telah tayang di Harian Pagi Batam Pos, Rabu, 26 Juni 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s