Mengenal Lebih Dekat Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)

Tim Badan Penerapan Pengkajian Teknologi (BPPT) telah mengudara di atas langit Batam selama seminggu lebih untuk menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) berupa hujan buatan. Dalam tempo waktu tersebut, tim BPPT menyemai garam di awan dengan bahan semai berbentuk Flare Hygroskopic ICE Chrystal atau biasa dikenal dengan kembang api.

Hujan buatan menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi krisis air bersih di Batam. Karena kemarau panjang, waduk-waduk di Batam mulai menyusut tajam sehingga mengancam kebutuhan air baku bagi warga Batam.

Koordinator Tim TMC BPPT, Budi Harsoyo mengatakan bahan semai berbentuk flare dipasang pada bagian sayap ataupun bawah pesawat. Partikel bahan semai masuk ke dalam awan jika flare terbakar.

Metode penyemaian dengan flare ini dinilai lebih efektif daripada metode penyemaian dengan tabur garam dari belakang pesawat.

Metode flare ini menggunakan garam yang dipercikkan melalui semacam suar yang dipasang pada pesawat. Kemudian flare dinyalakan di dalam atau di bawah dasar awan. Flare lebih efektif karena dapat mengangkut lebih banyak garam.

Proses modifikasi cuaca untuk melakukan hujan buatan diatas langit Batam

Adapun area operasi tim BPPT yakni diatas daerah tangkapan air (DTA) Waduk Duriangkang sebesar 75,18 kilometer.

Budi mengaku pekerjaan ini sangat sulit karena Batam memiliki topografi berupa dataran rendah dengan variasi perbukitan di tengah hingga selatan pulau. Batam juga merupakan pulau kecil sehingga menjatuhkan dengan tepat hujan buatan diatas Batam merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi tim BPPT.

Idealnya, hujan buatan dilaksanakan di awal musim penghujan dan di akhir musim penghujan.

Budi menyebut hujan buatan akan sangat efektif di masa transisi seperti sekarang ini, contohnya saat di akhir musim hujan maka akan menambah cadangan air saat musim kemarau.

Dalam prosesnya, jika menemukan cuaca dengan awan penghujan yang tepat, maka tim BPPT akan segera mengudara dengan pesawat Piper Cheyenne-II yang bisa mengangkut flare.

Berdasarkan catatan tim BPPT, setelah sembilan hari mengudara, hampir tiap hari hujan terjadi. Curah hujan paling minim terjadi pada 12 Juni kemarin.

Budi mengungkapkan bahwa hujan buatan akan dilaksanakan dalam waktu sebulan. Juni ini merupakan saat-saat terakhir masa transisi sehingga dinilai saat yang tepat untuk hujan buatan.

Di atas langit Batam banyak awan penghujan. Meski awan tersebut mengandung muatan listrik yang besar, justru tim BPPT malah mendatangi awan tersebut agar bisa melakukan penyemaian. Sesuatu yang pasti akan dihindari oleh penerbangan komersial.

Hujan buatan hanya bisa dilakukan jika ada awan-awan konveksi atau awan penghantar hujan. Hujan buatan ini memodifikasi awan-awan konveksi. Jadi kalau hujannya turun, maka akan lebih deras lagi 30 persen sehingga jadi hujan yang sangat lebat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s