Kepulauan Riau, Provinsi Terkaya di Sumatera

Kepri menjadi provinsi terkaya di Sumatera tahun 2019 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita mencapai Rp.122.430.000.

Kepri mempertahankan posisi ini selama tiga tahun terakhir. Pada 2017, PDRB per kapita Kepri mencapai Rp 109.332.000. Di 2018, nilainya meningkat menjadi Rp 116.579.000.

Untuk level nasional, Kepri menempati posisi keempat dibawah DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Sementara Riau tepat berada di bawah Kepri, diikuti Papua Barat, Jambi, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Selatan.

Kabupaten Anambas, di Kepulauan Riau menjadi kabupaten peringkat kedua terkaya di Indonesia. Foto : Pemerintah Kabupaten Anambas

PDRB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu. PDRB bisa juga didefinisikan sebagai jumlah nilai barang dan jasa akhir (netto) yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Transaksi ekonomi yang akan dihitung merupakan transaksi yang terjadi di wilayah domestik suatu daerah, tanpa memerhatikan apakah dilakukan oleh masyarakat (residen) dari daerah tersebut atau masyarakat lain (non-residen). Metode yang digunakan kali ini adalah metode perhitungan PDRB atas dasar Harga Berlaku.

PDRB atas dasar Harga Berlaku maksudnya nilai tambah barang dan jasa dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun. Dengan menggunakan harga berlaku, kita bisa melihat pergeseran-pergeseran yang terjadi dalam sektor ekonomi. Selain itu, bisa juga untuk melihat struktur ekonomi yang dimiliki oleh suatu kota, wilayah, atau provinsi.

Dengan kata lain, PDRB adalah jumlah keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua kegiatan perekonomian di seluruh wilayah dalam periode tahun tertentu, yang pada umumnya dalam waktu satu tahun.

Biasanya data PDRB disajikan dalam bentuk per kapita, seperti halnya pendapatan. PDRB per kapita merupakan gambaran dan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah.

PDRB per kapita diperoleh dari hasil bagi antara total PDRB dengan jumlah penduduk suatu kota atau provinsi. Data yang tersaji dalam bentuk ini merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah.

Sementara itu, Kepulauan Anambas dan Kepulauan Natuna masuk dalam 10 besar kabupaten termakmur pada tahun 2018.

Anambas berada di posisi nomor dua Se-Indonesia dibawah Teluk Bintuni (Papua Barat), dan diatas Mimika (Papua), Kutai Timur (Kalimantan Timur) dan Kepulauan Seribu (DKI Jakarta).

PDRB per kapita Anambas mencapai Rp 401,86 juta. Sedangkan Natuna dengan PDRD per kapita Rp 274,20 berada di posisi keenam, diikuti Bengkalis (Riau), Kutai Kertanegara (Kalimantan Timur), Tana Tidung (Kalimantan Utara) dan Kutai Barat (Kalimantan Timur).

Kepri sangat bergantung pada hasil produksi industri pengolahan yang berkontribusi sebanyak 42,77 persen. Kemudian sektor konstruksi sebanyak 19,20 persen dan pertambangan dan penggalian sebanyak 10,57 persen.

Hasil olahan industri pengolahan, berupa mesin, peralatan listik, benda-benda besi baja, mesin mekanik lainnya banyak diekspor ke Singapura, Malaysia serta Tiongkok dan Amerika.

Di tahun 2019, nilai ekspor non migas Kepri dari Januari hingga Oktober mencapai 7.560,68 juta dolar Amerika. Dan meningkat di periode yang sama di tahun ini menjadi 7.882,69 juta dolar Amerika.

Sedangkan, perekonomian Kepri yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 62,90 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp 43,14 triliun.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid mengatakan pendapatan per kapita menggambarkan pendapatan rata rata satu orang penduduk. Artinya ketika nilainya tinggi maka berarti penduduk menghasilkan pendapatan yang tinggi pula setiap tahunnya.

“Untuk Provinsi, Kepri memang sejak dulu sudah menduduki peringkat tinggi jika dibandingkan dengan provinsi tertentu dalam hal pendapatan per kapita penduduknya. Ini akibat pertumbuhan ekonomi Kepri yang relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi provinsi lainnya di Indonesia selama beberapa tahun secara kumulatif,” ucapnya.

Jika disandingkan dengan data pembangunan masyarakat lainnya seperti Indeks Pembangunan Manusia yang tinggi dan juga tingkat pengangguran terbuka yang relatif lebih rendah serta angka kemiskinan yang juga rendah maka bisa dikatakan pembangunan di Kepri sudah cukup berhasil.

“Namun perlu juga hati hati menilai data di atas. Sebagian besar pembangunan di Kepri terkonsentrasi di Batam. Sehingga ketimpangan pembangunan antar daerah di Kepri cukup tinggi. Jadi selanjutnya harus difikirkan bagaimana memeratakan pembangunan di Kepri agar tidak hanya didominasi oleh Batam saja,” ungkapnya.

*Artikel ini telah tayang di Harian Pagi Batam Pos, Selasa, 17 November 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s