Ubah Pulau Sekitar Batam Jadi Penghasil Sayur Mayur

Kepala BP Batam sekaligus Walikota Batam, Muhammad Rudi mengungkapkan sejumlah rencananya, yang akan diluncurkan setelah dana APBN dan APBD turun Februari nanti.

Ia menginginkan ada bantuan langsung dan akses program fisik. Salah satunya Simpang Basecamp akan segera diperbaki. Akhir Maret, mulai dikerjakan setelah lelang detail enggineering design (DED) dan lelang fisik.

Selain itu, Pemko Batam juga akan meluncurkan dana Percepatan Infrastruktur Kelurahan (PIK). Dana tersebut berjumlah Rp 1,7 miliar per kelurahan.

Ia juga mengungkapkan rencana Pemko Batam yang akan menggunakan pulau-pulau di sekitar Batam, sebagai pulau penghasil sayuran.

Rudi mengungkapkan bahwa Batam ini bukan penghasil. Makanya, Pemko Batam membahas soal tata ruang pertanian di Batam, dengan Kementerian ATR/BPN. Dalam usulan mengenai tata ruang pertanian tersebut, Rudi memasukkan pulau-pulau di luar Batam sebagai pulau penghasil sayuran, kedepannya nanti.

Ilustrasi Sayur Mayur

Rudi yakin jika rencana ini berhasil, maka cuaca buruk tidak akan menjadi hambatan lagi dalam distribusi sayur-sayuran. Selama ini, karena iklim buruk terutama di akhir tahun, sering menghambat distribusi sayur-sayuran. Ujung-ujungnya harga sayuran menjadi sangat mahal, karena langka.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi mengungkapkan kontribusi Batam, terhadap pertumbuhan inflasi Kepri sangat besar. Sumbangsihnya mencapai 80 persen.

Berdasarkan data Bank Indonesia, Inflasi di 2020 masih rendah. Desember 2020, inflasi Batam sebesar 1,12 persen dan paling tinggi 1,25 persen. Masih jauh di bawah target nasional. Untuk saat ini, pandemi memang menurunkan daya beli, sehingga nilai inflasi pun masih rendah.

Tahun lalu, rata-rata inflasi Kepri sebesar 1,18 persen, dan Batam menyumbang 80 persen. Tingkat inflasi ini dinilai aman, karena jauh dari target aman nasional di angka 3 plus 1 persen.

Sebabnya, karena sudah mulai ada pelonggaran aktivitas. Apalagi dengan adanya vaksin, dan protokol kesehatan yang baik, bisa ikut menjaga tingkat inflasi agar tetap stabil.

Untuk saat ini, Musni meminta agar pemerintah melihat segala potensi yang bisa saja terjadi, sebab dari pengaruh iklim.

Menurut Musni, gelombang laut yang tinggi pada periode musim angin utara yang sedang berlangsung saat ini, juga jadi faktor pemicu kenaikan harga bahan pokok, karena terhambatnya distribusi.

Ia menjelaskan, peningkatan harga cabai merah disebabkan penurunan pasokan, seiring dengan berakhirnya musim panen di sentra produksi.

Sedangkan peningkatan harga bawang merah terjadi sejalan dengan masih terbatasnya pasokan di tengah musim tanam yang masih berlangsung, serta tingginya curah hujan yang mengganggu sentra produksi.

Adapun kenaikan harga telur ayam ras didorong oleh keterbatasan pasokan sebagai dampak lanjutan dari pemberlakuan kebijakan pengendalian produksi Day Old Chick (DOC) melalui pengurangan jumlah telur yang menetas oleh pemerintah “Guna menjaga kelancaran pasokan dan ketersediaan barang, TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) akan menjalin kerja sama antardaerah dalam rangka pengendalian inflasi,” imbuhnya.

Upaya lain yakni mendorong p emasaran bahan pangan secara online melalui aplikasi, seperti aplikasi Bakulan Batam dan Gerai Tani Online Tanjungpinang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s