2020, Perekonomian Kepri Anjlok

Perekonomian Kepri sepanjang 2020 mengalami kontraksi sebesar 3,80 persen, setelah tahun sebelumnya, tumbuh sebesar 4,84 persen.

“Sepanjang 2020, perekonomian Kepri terus menunjukkan perbaikan dari triwulan kedua sejak terdampak Covid-19 hingga triwulan keempat,” ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Agus Sudibyo, Senin (8/2/2021).

Setelah sempat anjlok hingga minus 7,55 persen pada triwulan kedua, pertumbuhan ekonomi Kepri mampu bangkit di triwulan ketiga dan keempat yaitu sebesar 3,23 persen dan 4,53 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2020, jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, masih terkontraksi sebesar 4,46 persen.

Transaksi jual beli di pasar tradisional. Perekonomian Kepri tumbuh minus sepanjang 2020

“Namun, sudah tidak sdalam triwulan ketiga yang kontraksi mencapai 5,81 persen. Pergerakan laju pertumbuhan ekonomi yang menuju arah positif ini merupakan sinyal positif bangkitnya perekonomian Kepri di era New Normal,” tuturnya.

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepulauan Riau (Kepri) dan dunia usaha sepakat bersinergi untuk memulihkan perekonomian Kepri pada 2021 mendatang.

“Hal tersebut juga didukung oleh perkembangan positif dalam riset penemuan vaksin Covid-19, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi Kepri di 2021 berada di kisaran 3,9 sampai 4,9 persen (yoy),” kata Kepala BI Perwakilan Kepri, Musni Hardi.

Sementara untuk Batam, proyeksi pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,4 sampai 5,4 persen year on year (yoy). “Prasyarat utama yakni vaksin Covid-19,” sebutnya.

Salah satu caranya yakni bersinergi mendorong beroperasinya sektor-sektor produktif, dengan penerapan protokol Covid-19 yang disiplin. BI Kepri telah memetakan sektor usaha dengan dampak ekonomi tinggi yang perlu diprioritaskan untuk mendorong pemulihan ekonomi.

Industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi dan pergudangan masuk dalam kategori medium, untuk sektor usaha yang terdampak Covid-19.

Sedangkan sektor usaha yang mendukung pariwisata seperti penyediaan akomodasi dan makan minum masuk dalam kategori tinggi terdampak Covid-19. Sektor-sektor yang terdampak Covid-19 ini memerlukan insentif baik dalam bentuk fiskal maupun non fiskal dari pemerintah pusat, agar bisa bertahan melewati pandemi yang belum tahu kapan akan berakhir.

Kemudian, meningkatkan akselerasi belanja pemerintah. Menurut Musni, jika belanja pemerintah banyak digelontorkan di awal tahun, akan memberikan dampak yang signifikan bagi perekonomian.

Dari data yang dihimpun BI Kepri tiga tahun terakhir, belanja pemerintah selalu tinggi di triwulan keempat tiap tahunnya, rata-rata berada di atas 90 persen. Sedangkan belanja di awal hingga pertengahan tahun, selalu berada di rentang 8 hingga 35 persen.

*Artikel ini telah tayang di Harian Pagi Batam Pos, Selasa, 9 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s